speedy gerbi

speedy gerbi
131626100895@telkom.net
ANSPSLK33JUDR


Anak Sekolah Siap Beli BMW

Tak dapat dapat dipungkiri anak-anak yang bersekolah di SMK harus sudah mempersiapkan untuk hal yang satu ini mengapa tidak ? karena hal ini sudah sejalan dengan Tujuan dari SMK itu sendiri yaitu :

  1. Menyiapkan peserta didik agar menjadi manusia produktif mampu bekerja mandiri, mengisi lowongan pekerjaan yang ada di dunia usaha dan industri sebagai tenaga kerja tingkat menengah sesuai dengan kompetensi dalam progam keahlian yang dipilihnya;
  2. Menyiapkan peserta didik agar mampu memilih karier, ulet, dan gigih dalam berkompetisi, beradaptasi di lingkungan kerja, dan mengembangkan sikap profesional dalam keahlian yang diminatinya;
  3. Membekali peserta didik dengan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni, agar mampu mengembangkan diri di kemudian hari baik secara mandiri maupun melalui jenjang pendidikan yang lebih tinggi;
  4. Membekali peserta didik dengan kompetensi-kompetensi yang sesuai dengan program keahlian yang dipilih

Nah atas dasar itulah lulusan SMK yang memang dipersiapkan untuk menjadi seorang yang profesional , kompeten dalam bidang keahliannya. Harus dipersiapkan jauh lebih awal pada saat proses pembelajaran.

Ada tiga hal yang dapat dilakukan lulusan SMK diantaranya adalah dengan mengenalkan BMW :

Yaitu

B= Bekerja, tentunya lulusan SMK diharapkan tingkat keterserapannya di dunia usaha dan industri dapat tersalurkan dengan cepat.

M = Melanjutkan , yaitu siswa SMK tidak menutup kemungkinan untuk melanjutkan kependidikan yang lebih tinggi lagi.

W = Wirausaha,nah ini dia harapan sebenarnya Lulusan SMk tidak semata –mata mengharap selalu meminta dan mencari pekerjaan tetapi di arahkan untuk dapat menciptakan lapangan pekerjaan baru dan mandiri sesuai dengan bidang keahlian yang dipilihnya

Contoh :

jurusan tata busana dimungkinkan untuk dapat membuat usaha jahit menjahit

Tata Boga ,membuat aneka masakan atau mendirikan usah yang keterkaitan dengan aneka masakan dan minuman dan lain-lain nya

sudah barang tentu keistimewaan SMK inilah yang memberi harapan dalam menghadapi era globalisasi ini,  dengan cara membuka dan memperluas lapangankerja baru dengan cara mempersiapkan sumber daya manusia yang siap bekerja, ciri-ciri milenium ketiga adalah

1) persaingan bebas

2) perubahan yang semakincepat;

3) derasnya arus informasi yang semakin mengglobal tanpa mengenal batas negara

apabila bangsa kita tidak siap menghada[pi arus globalisasi maka kita akan tergilas oleh arus globalisasi yang ujungnya akan menjadi budak dari negara sendiri, persaingan bebas dalam bidang tenag kerja menuntut sumber daya manusia yang memiliki daya saing, yaitu berdaya juang tinggi dan memiliki kompetensi keahlian kejuruan tertentu.

sumber : materi Kewirausahaan Penerbit Yudistira.



January Christy: Melayang

desc

via January Christy: Melayang.


Minumlah air hangat ketika/setelah makan…!

Please be a true friend and send this article to all your friends you care about. Serangan Jantung dan kebiasaan Minum Air Panas / hangat…. Artikel ini berguna untuk semua. Bukan saja anjuran meminum air panas selepas makan, tetapi berhubungan dengan SERANGAN JANTUNG!!!!. Secara logik…., mungkin ada kebenarannya. . Orang-orang China dan Jepang mengamalkan minum teh panas sewaktu makan… dan bukannya air ES. Mungkin sudah tiba masanya kita meniru kebiasaan minum air panas / hangat sewaktu menikmati hidangan!!!! Kita tidak akan kehilangan apa-apa… malah akan mendapat faedah dari kebiasaan ini. Kepada siapa yang suka minum air ES, artikel ini sesuai untuk anda baca.. Memang enak dan segar minum air ES selepas makan, tetapi akan berakibat fatal !! Walaubagaimanapun, Air ES akan membekukan makanan berminyak yang baru kita makan. Ia akan melambatkan proses pencernaan kita. Bila lemak-lemak ini terbentuk di dalam usus, ia akan menyempitkan banyak saluran dan lama kelamaan ia akan menyebabkan lemak berkumpul dan kita semakin gemuk dan menuju ke arah mendapat berbagai PENYAKIT. Jalan terbaik…adalah untuk minum sup panas atau air PANAS/hangat selepas makan. :Nota penting tentang SERANGAN JANTUNG!!! Anda perlu tahu bahwa tanda-tanda serangan jantung akan mulai terasa pada tangan sebelah kiri. Berhati-hati juga pada permulaan sakit sedikit-sedikit pada bagian atas dada anda. Anda mungkin tidak akan mengalami sakit dada pada serangan pertama serangan jantung. Keletihan dan berkeringat dingin adalah tanda-tanda pada umumnya.. Malah 60% pengidap SAKIT JANTUNG tidak bangun selepas tidur. Marilah kita berwaspada dan berhati-hati. Lebih banyak kita tahu, lebih cerah peluang kita untuk terus hidup… PAKAR SAKIT JANTUNG berkata, jika semua orang yang mendapat e-mail ini menghantar kepada 10 orang yang lain, beliau yakin akan dapat menyelamatkan satu nyawa.. Baca ini…. ia juga mungkin dapat menyelamatkan nyawa anda!!!!.

Sumber: Millis PSMK


Nyamuk: Pemakan Darah?

Dalam Alqur’an, Allah seringkali menyeru manusia untuk mempelajari alam dan menyaksikan “ayat-ayat” yang ada padanya. Semua makhluk hidup dan tak hidup di jagat raya ini dipenuhi “ayat” yang menunjukkan bahwa alam semesta seisinya telah diciptakan. Di samping itu alam ini adalah pencerminan dari ke-Mahakuasaan, Ilmu dan Kreasi Penciptanya. Adalah wajib bagi manusia untuk memahami ayat-ayat ini melalui akalnya, sehingga ia pun pada akhirnya menjadi hamba yang tunduk patuh di hadapan Allah.

Kendatipun semua makhluk hidup adalah ayat Allah, uniknya ada sejumlah binatang yang secara khusus disebut dalam Alqur’an. Satu diantaranya adalah nyamuk:

Sesungguhnya Allah tiada segan membuat perumpamaan berupa nyamuk atau yang lebih rendah dari itu. Adapun orang-orang yang beriman, maka mereka yakin bahwa perumpamaan itu benar dari Rabb mereka, tetapi mereka yang kafir mengatakan: “Apakah maksud Allah menjadikan ini untuk perumpamaan?” Dengan perumpamaan itu banyak orang yang disesatkan Allah, dan dengan perumpamaan itu (pula) banyak orang yang diberi-Nya petunjuk. Dan tidak ada yang disesatkan Allah kecuali orang-orang yang fasik (QS. Al-Baqarah, 2:26).

Mungkin banyak di antara kita yang menganggap nyamuk sebagai serangga yang biasa saja, atau bahkan menjengkelkan karena suka mengganggu orang tidur. Akan tetapi pernyataan: “Sesungguhnya Allah tiada segan membuat perumpamaan berupa nyamuk atau yang lebih rendah dari itu” semestinya mendorong kita untuk memikirkan keajaiban binatang yang satu ini.

Pemakan madu bunga

Anggapan banyak orang bahwa nyamuk adalah penghisap dan pemakan darah tidaklah sepenuhnya benar. Hanya nyamuk betina yang menghisap darah dan bukan yang jantan. Di samping itu, nyamuk betina menghisap darah bukan untuk kebutuhan makan mereka. Sebab baik nyamuk jantan maupun betina, keduanya hidup dengan memakan “nectar“, yakni cairan manis yang disekresikan oleh bunga tanaman (sari madu bunga). Satu-satunya alasan mengapa nyamuk betina, dan bukan jantan, menghisap darah adalah karena darah mengandung protein yang dibutuhkan untuk perkembangan dan pertumbuhan telur nyamuk. Dengan kata lain, nyamuk betina menghisap darah untuk mempertahankan kelangsungan hidup spesiesnya.

Perubahan warna

Proses perkembangan nyamuk merupakan peristiwa yang paling menakjubkan. Di bawah ini uraian singkat tentang metamorfosis nyamuk dimulai dari larva mungil melalui sejumlah fase perkembangan yang berbeda hingga pada akhirnya menjadi nyamuk dewasa.

Nyamuk betina menaruh telurnya, yang diberi makan berupa darah agar dapat tumbuh dan berkembang, pada dedaunan lembab atau kolam-kolam yang tak berair di musim panas atau gugur. Sebelumnya, nyamuk betina ini menjelajahi wilayah yang ada dengan sangat teliti menggunakan reseptornya yang sangat peka yang terletak pada perutnya. Setelah menemukan tempat yang cocok, nyamuk mulai meletakkan telur-telurnya. Telur yang panjangnya kurang dari 1 mm ini diletakkan secara teratur hingga membentuk sebuah barisan teratur. Beberapa spesies nyamuk meletakkan telur-telurnya sedemikian hingga berbentuk seperti sebuah sampan. Beberapa koloni telur ini ada yang terdiri dari 300 buah telur.

Telur-telur yang berwarna putih ini kemudian berubah warna menjadi semakin gelap, dan dalam beberapa jam menjadi hitam legam. Warna gelap ini berfungsi untuk melindungi telur-telur tersebut agar tidak terlihat oleh serangga maupun burung pemangsa. Sejumlah larva-larva yang lain juga berubah warna, menyesuaikan dengan warna tempat di mana mereka berada, hal ini berfungsi sebagai kamuflase agar tidak mudah terlihat oleh pemangsa.

Larva-larva ini berubah warna melalui berbagai proses kimia yang terjadi pada tubuhnya. Tidak diragukan lagi bahwa telur, larva maupun nyamuk betina bukanlah yang menciptakan sendiri ataupun mengendalikan berbagai proses kimia yang mengakibatkan perubahan warna tersebut seiring dengan perjalanan metamorfosis nyamuk. Mustahil pula jika sistem yang kompleks ini terjadi dengan sendirinya. Kesimpulannya adalah nyamuk telah diciptakan secara lengkap beserta dengan sistem perkembangbiakannya sejak pertama kali ia ada. Dan Pencipta yang Maha Sempurna ini adalah Allah.

Hidup sebagai larva

Ketika periode inkubasi telur telah berlalu, para larva lalu keluar dari telur-telur mereka dalam waktu yang hampir bersamaan. Larva (jentik nyamuk) yang makan terus-menerus ini tumbuh sangat cepat hingga pada akhirnya kulit pembungkus tubuhnya menjadi sangat ketat dan sempit. Hal ini tidak memungkinkan tubuhnya untuk tumbuh membesar lagi. Ini pertanda bahwa mereka harus mengganti kulit. Pada tahap ini, kulit yang keras dan rapuh ini dengan mudah pecah dan mengelupas. Para larva tersebut mengalami dua kali pergantian kulit sebelum menyelesaikan periode hidup mereka sebagai larva.

Jentik nyamuk mendapatkan makanan dengan cara yang menakjubkan. Mereka membuat pusaran air kecil dalam air dengan menggunakan bagian ujung dari tubuh mereka yang ditumbuhi bulu sehingga mirip kipas. Kisaran air tersebut menyebabkan bakteri dan mikro-organisme lainnya tersedot dan masuk ke dalam mulut larva nyamuk. Proses pernapasan jentik nyamuk, yang posisinya terbalik di bawah permukaan air, terjadi melalui sebuah pipa udara yang mirip dengan “snorkel” (pipa saluran pernapasan) yang biasa digunakan oleh para penyelam. Tubuh jentik mengeluarkan cairan yang kental yang mampu mencegah air untuk memasuki lubang tempat berlangsungnya pernapasan. Sungguh, sistem pernapasan yang canggih ini tidak mungkin dibuat oleh jentik itu sendiri. Ini tidak lain adalah bukti ke-Mahakuasaan Allah dan kasih sayang-Nya pada makhluk yang mungil ini, agar dapat bernapas dengan mudah.

Saat meninggalkan kepompong

Pada tahap larva (jentik), terjadi pergantian kulit sekali lagi. Pada tahap ini, larva tersebut berpindah menuju bagian akhir dari perkembangan mereka yakni tahap kepompong (pupal stage). Ketika kulit kepompong terasa sudah sempit dan ketat, ini pertanda bagi larva untuk keluar dari kepompongnya.

Selama masa perubahan terakhir ini, larva nyamuk menghadapi tantangan yang membahayakan jiwanya, yakni masuknya air yang dapat menyumbat saluran pernapasan. Hal ini dikarenakan lubang pernapasannya, yang dihubungkan dengan pipa udara dan menyembul di atas permukaan air, akan segera ditutup. Jadi sejak penutupan ini, dan seterusnya, pernapasan tidak lagi melalui lubang tersebut, akan tetapi melalui dua pipa yang baru terbentuk di bagian depan nyamuk muda. Tidak mengherankan jika dua pipa ini muncul ke permukaan air sebelum pergantian kulit terjadi (yakni sebelum nyamuk keluar meninggalkan kepompong). Nyamuk yang berada dalam kepompong kini telah menjadi dewasa dan siap untuk keluar dan terbang. Binatang ini telah dilengkapi dengan seluruh organ dan organelnya seperti antena, kaki, dada, sayap, abdomen dan matanya yang besar.

Kemunculan nyamuk dari kepompong diawali dengan robeknya kulit kepompong di bagian atas. Resiko terbesar pada tahap ini adalah masuknya air ke dalam kepompong. Untungnya, bagian atas kepompong yang sobek tersebut dilapisi oleh cairan kental khusus yang berfungsi melindungi kepala nyamuk yang baru “lahir” ini dari bersinggungan dengan air. Masa-masa ini sangatlah kritis. Sebab tiupan angin yang sangat lembut sekalipun dapat berakibatkan kematian jika nyamuk muda tersebut jatuh ke dalam air. Nyamuk muda ini harus keluar dari kepompongnya dan memanjat ke atas permukaan air dengan kaki-kakinya sekedar menyentuh permukaan air.

Begitulah, seringkali hati kita tertutupi dari memahami kebesaran Allah pada makhluknya yang tampak kecil dan tak berarti. Kalau nyamuk yang kecil ternyata menyimpan keajaiban ciptaan Allah yang begitu besar, bagaimana dengan makhluk-Nya yang lebih besar dan lebih sering kita saksikan dalam kehidupan sehari-hari? Wallaahu a’lam.

(sumber : http://harunyahya.com/indo/artikel/008.htm)


6 Mithos tentang Kreativitas

Teresa Amabile telah melakukan studi tentang kreativitas hampir selama 30 tahun, melalui kerjasamanya dengan para mahasiswa kandidat Ph.D, manajer berbagai jenis perusahaan dan mengumpulkan 12 000 jurnal harian dan serta berbagai aktivitas lainnya yang terkait dengan proyek kreativitas. Berdasarkan hasil telaahannya dia mengungkapkan 6 mithos tentang kreativitas yang terjadi selama ini. Keenam mithos tersebut adalah.

1. Creativity Comes From Creative Types

Ada anggapan bahwa kreativitas seolah-seolah hanya berasal dan milik kalangan atau golongan tertentu, misalnya kelompok orang-orang yang bergerak dalam bidang R & D, marketing atau advertising, yang didukung dengan bakat, pengalaman, serta kecerdasan yang luar biasa. Namun studi yang dilakukan menunjukkan bahwa seseorang yang memiliki kecerdasan normal pun sesungguhnya dapat memiliki kemampuan untuk bekerja secara kreatif, hanya mereka kadang-kadang tidak menyadari potensi kreatifnya, karena mereka bekerja atau berada pada lingkungan yang mengahalangi tumbuhnya motivasi intrinsik. Motivasi instrinsik inilah justru merupakan faktor yang dianggap dapat menyalakan seseorang untuk bekerja secara kreatif.

2. Money Is a Creativity Motivator

Banyak orang beranggapan bahwa uang dianggap sebagai pemicu dan pendorong kreativitas. Studi eksperimental yang telah dilakukan menunjukkan bahwa ternyata uang bukanlah apa-apa. Ketika ditanyakan kepada sejumlah orang: “Termotivasi oleh penghargaan (baca: bonus) apa hari ini Anda bekerja?. Mereka menjawab “ Itu pertanyaan yang tidak relevan”. Hal ini menunjukkan bahwa dalam bekerja mereka tidak hanya berfikir tentang berapa upah yang harus diterima per harinya.

Tentunya setiap orang membutuhkan kompensasi yang adil atas kinerjanya, tetapi ternyata banyak orang cenderung meletakkan nilai–nilai (value) yang lebih jauh, dan tidak hanya sekedar uang. Orang menjadi sangat kreatif tatkala lingkungan kerja memberikan ruang yang terbuka bagi dirinya untuk berkreasi dan memperoleh perluasan keterampilan untuk kemajuan nyata dalam bekerjanya. Hal yang penting agar orang menjadi kreatif adalah berusaha menempatkan mereka tidak hanya berdasarkan pengalaman kerja semata tetapi juga harus memperhatikan minatnya (interest), sehingga mereka akan lebih peduli terhadap apa yang dikerjakannya.

3. Time Pressure Fuels Creativity

Banyak orang berfikiran bahwa orang menjadi kreatif ketika dia bekerja di bawah tekanan deadline. Namun hasil studi menunjukkan kebalikannnya. Orang menjadi miskin kreativitas ketika harus bertempur dengan waktu. Tekanan waktu yang hebat dapat mencekik kreativitas sehingga dalam bekerja mereka tidak mampu lagi untuk berusaha mendalami masalah-masalah yang ada.

Kreativitas mensyaratkan adanya masa inkubasi, orang membutuhkan waktu untuk mendalami suatu masalah dan membiarkan untuk menggelembungkan segala pemikirannya.

Bekerja dengan deadline akan menimbulkan banyak masalah sehingga banyak menyita waktu mereka untuk melakukan terobosan-terobosan pemikiran kreatifnya. Agar orang menjadi kreatif harus terlindungi dari berbagai gangguan atau masalah, sehingga dia dapat lebih fokus dalam bekerjanya.

4. Fear Forces Breakthroughs

Seringkali orang beranggapan bahwa ketakutan, kecemasan dan kesedihan akan menjadi kekekuatan seseorang untuk menjadi kreatif, sebagaimana banyak dibicarakan dalam beberapa literatur psikologi. Tetapi hasil studi tidak melihat ke arah itu. Kreativitas muncul justru pada saat orang merasa senang dan bahagia dalam bekerja. Terdapat korelasi antara kebahagiaan seseorang dalam bekerja dengan tingkat kreativitasnya. Bahkan, kebahagaian seseorang pada suatu hari seringkali menjadi ramalan kreativitasnya pada hari berikutnya

5. Competition Beats Collaboration

Ada semacam keyakinan, khususnya di kalangan dunia industri high –tech dan keuangan bahwa kompetisi internal dapat membantu terciptanya inovasi. Namun hasil survey menunjukkan bahwa kreativitas justru muncul pada saat orang bekerja secara kolaboratif. Melaui team work orang dapat menunjukkan rasa percaya dirinya, saling berbagi dan memperdebatkan berbagai pemikirannya. Namun ketika orang harus dikompetisikan malah mereka menjadi enggan dan menghentikan untuk saling berbagi informasi dan pengalamannya.

6. A Streamlined Organization Is a Creative Organization

Banyak orang beranggapan bahwa organisasi yang ramping adalah organisasi yang kreatif. Memang benar, bahwa ukuran organisasi yang besar seringkali mengalami kesulitan untuk mengendalikan karyawan. Tetapi jika, tabah dan bersabar menghadapinya justru akan menghasilkan kekuatan, kreativitas dan kolaborasi. Yang terpenting disini adalah bagaimana setiap orang dapat diberikan kesempatan untuk bekerja secara otonom dan mencintai pekerjaannya, memiliki komitmen, terjalin komunikasi dan kolaborasi, sehingga pada suatu saat kreativitas akan muncul dengan sendirinya.

Sumber:

adaptasi dan disarikan dari “The 6 Myths Of Creativity” karya Bill Breen (2004)

http://www.fastcompany.com/magazine/89/creativity.html

Beberapa Refleksi untuk Anda:

  1. Apakah Anda termasuk orang yang termakan oleh keenam mithos tersebut?
  2. Sertifikasi guru yang disertai kenaikan penghasilan, akankah menjadi pemicu terciptanya kreativitas mereka
  3. Dengan jumlah guru di Indonesia yang relatif banyak, apakah mungkin untuk terciptanya kreativitas?
  4. Jika Anda hanya berkecerdasan dengan kategori normal, mungkinkah Anda menjadi seorang yang kreatif dalam bekerja?

Teknologi Pendidikan KURTEK FIP

DESKRIPSI MATA KULIAH

Mata kuliah ini mengkaji berbagai hal yang terkait dengan penelitian, dimulai dari konsep tentang penemuan ilmiah, hakekat tentang ilmu dan aplikasinya dalam penelitian ilmiah, pendekatan dan model penelitian, dan prosedur penelitian (perumusan masalah, hipotesis, kerangka berpikir, metodologi penelitian, pengujian, pembuatan kesimpulan, saran, dan rekomendasi), penyusunan proposal penelitian serta pembuatan laporan hasil penelitian.

PENGALAMAN BELAJAR

Pengalaman belajar yang dikembangkan dalam kegiatan perkuliahan ini meliputi kegiatan penalaran berbagai hal tentang penelitian yang dilakukan melalui kegiatan tatap muka di kelas berupa kegiatan ceramah dan diskusi kelompok, kegiatan terstruktur yang dilakukan melalui resitasi berupa penyusunan proposal penelitian, dan kegiatan lapangan dilakukan melalui resitasi kegiatan penelitian terbatas dan pembuatan laporan hasil penelitian.

EVALUASI HASIL BELAJAR

Keberhasilan dalam mengikuti mata kuliah ini didasarkan atas penilaian terhadap hasil-hasil pekerjaan mahasiswa, yang memenuhi persyaratan kehadiran minimal 80%, dalam meyelesaikan tugas (bobot 1), ujian tengah semester (bobot 2), dan ujian akhir semester (bobot 2). Skor akhir akan diolah dengan menggunakan Acuan Norma, dan dikonversi ke dalam nilai A B C D E.

URAIAN POKOK BAHASAN SETIAP PERTEMUAN

Pertemuan ke

Tujuan Umum Perkuliahan

Pokok Bahasan/ Sub Pokok Bahasan

1

Mahasiswa memahami keseluruhan program perkuliahan

Program perkuliahan: Tujuan, prasyarat, cakupan materi, kegiatan perkuliahan, penilaian dan rujukan

2

Mahasiswa memahami konsep-konsep penemuan ilmiah

Konsep-konsep penemuan ilmiah

3

Mahasiswa mengetahui hakikat ilmu dan aplikasinya dalam penelitian ilmiah

Ilmu dan aplikasinya dalam penelitian ilmiah dalam paradigma penelitian

kuantitatif dan kualitatif

4 dan 5

Mahasiswa mengetahu model-model penelitian

Model-model penelitian:

- Penelitian Kuantitatif

- Penelitian Kualitatif

- Penelitian Tindakan Kelas (PTK)

6

Mahasiswa dapat merumuskan masalah dan variabel penelitian

Masalah dan Variabel penelitian

- Sumber masalah

- teknik perumusan maslah

-Jenis variabel

- Definisi variabel

7

Mahasiswa dapat merumuskan kajian teori, kerangka berfikir dan hipotesis penelitian

- Landasan teori

- Kerangka berfikir

- Rumusan hipotesis penelitian

8

Ujian Tengah Semes ( U T S )

9 dan 10

Mahasiswa dapat merumuskan metodologi penelitaian

Metodologi penelitian

- Populasi dan sampel

- Metode. desain dan konstelasi penelitian

- Teknik pengumpulan data dan instrumen penelitian

- Teknik pengolahan dan analisis data

- Rumusan hipotesis statistik

11

Mahasiswa mengetahui cara mendeskripsikan hasil penelitian dan pengujian hipotesis serta pembahasan

- Deskripsi hasil penelitian

- Uji persayaratan analisis

-Uji hipotesis penelitian

- Penafsiran dan pembahasan hasil penelitian

12

Mahasiswa dapat merumuskan kesimpulan, implikasi dan saran/rekomendasi

- Cara merumuskan kesimpulan

- Cara mengungkapkan saran dan implikasi

13

Mahasiswa memahami teknik penulisan laporan hasil penelitian

- Format dan sistimatika laporan hasil penelitian (bentuk skripsi)

- Teknik pembuatan catatan kaki

14

Mahasiswa memahami cara-cara membuat proposal/rancangan penelitian

Struktur/ sistematika dan isi proposal penelitian

15 dan 16

Mahasiswa daopat menulis proposal penelitaian

Konsultasi penulisan proposal

DAFTAR LITERATUR

Nana Sudjana & R. Ibrahim, Penelitian Pendidikan, (Bandung : Sumber Baru, 1989)

Nana Sudjana, Tuntunan Penyusunan Karya Ilmiah, (Bandung : Sinar Baru, 1991)

Mohammad Ali, Strategi Penelitian Pendidikan, ( Bandung : PT Angkasa, 1993)

S. Nasution, Metodologi Penelitian Naturalistik Kualitatif, (Bandung : Tarsito, 1988)

Frankel, R. & E. Wallen, How to Design and Evaluate Research in Education, McGraw Hill, Inc.

Masri Singarimbun, dkk. Metode Penelitian Survey, (Jakarta : LP3ES, 1989).

Hadari Nawawi dan Martini, Instrumen Penelitian Bidang Sosial, (Yogyakarta : Gadjah Mada Press, 1992

Emanuel, J Mason, Understanding and Conducting Research,/ Aplication in education and the behavioral science, (McGraw Hill. Inc, 1989)

Bogdan C.Robert & Sari Knopp Biklen, Qualitative Research for Education, Boston : Allyn and Bacon, 1992

LITERARTUR TAMBAHAN

Literatur tambahan diambil dari beberapa jurnal dan searching dari Internet seauai dengan kebutuhan mahasiswa.

DOSEN DAPAT DIHUBUNGI MELALUI :

Prof. Dr. H. Nana Sudjana

KURTEK FIP UPI Telp. 022-2013163 ext. 4311

Drs. Toto Fathoni, M.Pd.

HP. 08122377248 atau P3MP UPI Telp. 022-2013163 ext. 2201

Drs. Tatang Syarifudin, M.Pd.

HP. 081320697000 atau KURTEK FIP UPI Telp. 022-2013163 ext. 4311

Drs. Rudi Susilana, M.Si.

HP. 08122488283

e_mail: rudi_susilana@yahoo.com atau skurtek@upi.edu

KURTEK FIP UPI Telp. 022-2013163 ext. 4311


KONSEP DASAR EVALUASI HASIL BELAJAR

Pengertian Pengukuran, Penilaian dan Evaluasi

Wiersma dan Jurs membedakan antara evaluasi, pengukuran dan testing. Mereka berpendapat bahwa evaluasi adalah suatu proses yang mencakup pengukuran dan mungkin juga testing, yang juga berisi pengambilan keputusan tentang nilai. Pendapat ini sejalan dengan pendapat Arikunto yang menyatakan bahwa evaluasi merupakan kegiatan mengukur dan menilai. Kedua pendapat di atas secara implisit menyatakan bahwa evaluasi memiliki cakupan yang lebih luas daripada pengukuran dan testing.

Ralph W. Tyler, yang dikutif oleh Brinkerhoff dkk. Mendefinisikan evaluasi sedikit berbeda. Ia menyatakan bahwa evaluation as the process of determining to what extent the educational objectives are actually being realized. Sementara Daniel Stufflebeam (1971) yang dikutip oleh Nana Syaodih S., menyatakan bahwa evaluation is the process of delinating, obtaining and providing useful information for judging decision alternatif. Demikian juga dengan Michael Scriven (1969) menyatakan evaluation is an observed value compared to some standard. Beberapa definisi terakhir ini menyoroti evaluasi sebagai sarana untuk mendapatkan informasi yang diperoleh dari proses pengumpulan dan pengolahan data.

Sementara itu Asmawi Zainul dan Noehi Nasution mengartikan pengukuran sebagai pemberian angka kepada suatu atribut atau karakteristik tertentu yang dimiliki oleh orang, hal, atau obyek tertentu menurut aturan atau formulasi yang jelas, sedangkan penilaian adalah suatu proses untuk mengambil keputusan dengan menggunakan informasi yang diperoleh melalui pengukuran hasil belajar baik yang menggunakan tes maupun nontes. Pendapat ini sejalan dengan pendapat Suharsimi Arikunto yang membedakan antara pengukuran, penilaian, dan evaluasi. Arikunto menyatakan bahwa mengukur adalah membandingkan sesuatu dengan satu ukuran. Pengukuran bersifat kuantitatif. Sedangkan menilai adalah mengambil suatu keputusan terhadap sesuatu dengan ukuran baik buruk. Penilaian bersifat kualitatif. Hasil pengukuran yang bersifat kuantitatif juga dikemukakan oleh Norman E. Gronlund (1971) yang menyatakan “Measurement is limited to quantitative descriptions of pupil behavior

Pengertian penilaian yang ditekankan pada penentuan nilai suatu obyek juga dikemukakan oleh Nana Sudjana. Ia menyatakan bahwa penilaian adalah proses menentukan nilai suatu obyek dengan menggunakan ukuran atau kriteria tertentu, seperti Baik , Sedang, Jelek. Seperti juga halnya yang dikemukakan oleh Richard H. Lindeman (1967) “The assignment of one or a set of numbers to each of a set of person or objects according to certain established rules

B. Tujuan Evaluasi

Sebagaimana diuraikan pada bagian terdahulu bahwa evaluasi dilaksanakan dengan berbagai tujuan. Khusus terkait dengan pembelajaran, evaluasi dilaksanakan dengan tujuan:

1. Mendeskripsikan kemampuan belajar siswa.

2. mengetahui tingkat keberhasilan PBM

3. menentukan tindak lanjut hasil penilaian

4. memberikan pertanggung jawaban (accountability)

C. Fungsi Evaluasi

Sejalan dengan tujuan evaluasi di atas, evaluasi yang dilakukan juga memiliki banyak fungsi, diantaranya adalah fungsi:

1. Selektif

2. Diagnostik

3. Penempatan

4. Pengukur keberhasilan

Selain keempat fungsi di atas Asmawi Zainul dan Noehi Nasution menyatakan masih ada fungsi-fungsi lain dari evaluasi pembelajaran, yaitu fungsi:

1. Remedial

2. Umpan balik

3. Memotivasi dan membimbing anak

4. Perbaikan kurikulum dan program pendidikan

5. Pengembangan ilmu

D. Manfaat Evaluasi

Secara umum manfaat yang dapat diambil dari kegiatan evaluasi dalam pembelajaran, yaitu :

1. Memahami sesuatu : mahasiswa (entry behavior, motivasi, dll), sarana dan prasarana, dan kondisi dosen

2. Membuat keputusan : kelanjutan program, penanganan “masalah”, dll

3. Meningkatkan kualitas PBM : komponen-komponen PBM

Sementara secara lebih khusus evaluasi akan memberi manfaat bagi pihak-pihak yang terkait dengan pembelajaran, seperti siswa, guru, dan kepala sekolah.
Bagi  Siswa

Mengetahui tingkat pencapaian tujuan pembelajaran : Memuaskan atau tidak memuaskan

Bagi Guru

1. mendeteksi siswa yang telah dan belum menguasai tujuan : melanjutkan, remedial atau pengayaan

2. ketepatan materi yang diberikan : jenis, lingkup, tingkat kesulitan, dll.

3. ketepatan metode yang digunakan

Bagi Sekolah

1. hasil belajar cermin kualitas sekolah

2. membuat program sekolah

3. pemenuhan standar

E. Macam-macam Evaluasi

1. Formatif

Evaluasi formatif adalah evaluasi yang dilakukan pada setiap akhir pembahasan suatu pokok bahasan / topik, dan dimaksudkan untuk mengetahui sejauh manakah suatu proses pembelajaran telah berjalan sebagaimana yang direncanakan. Winkel menyatakan bahwa yang dimaksud dengan evaluasi formatif adalah penggunaan tes-tes selama proses pembelajaran yang masih berlangsung, agar siswa dan guru memperoleh informasi (feedback) mengenai kemajuan yang telah dicapai. Sementara Tesmer menyatakan formative evaluation is a judgement of the strengths and weakness of instruction in its developing stages, for purpose of revising the instruction to improve its effectiveness and appeal. Evaluasi ini dimaksudkan untuk mengontrol sampai seberapa jauh siswa telah menguasai materi yang diajarkan pada pokok bahasan tersebut. Wiersma menyatakan formative testing is done to monitor student progress over period of time. Ukuran keberhasilan atau kemajuan siswa dalam evaluasi ini adalah penguasaan kemampuan yang telah dirumuskan dalam rumusan tujuan (TIK) yang telah ditetapkan sebelumnya. TIK yang akan dicapai pada setiap pembahasan suatu pokok bahasan, dirumuskan dengan mengacu pada tingkat kematangan siswa. Artinya TIK dirumuskan dengan memperhatikan kemampuan awal anak dan tingkat kesulitan yang wajar yang diperkiran masih sangat mungkin dijangkau/ dikuasai dengan kemampuan yang dimiliki siswa. Dengan kata lain evaluasi formatif dilaksanakan untuk mengetahui seberapa jauh tujuan yang telah ditetapkan telah tercapai. Dari hasil evaluasi ini akan diperoleh gambaran siapa saja yang telah berhasil dan siapa yang dianggap belum berhasil untuk selanjutnya diambil tindakan-tindakan yang tepat. Tindak lanjut dari evaluasi ini adalah bagi para siswa yang belum berhasil maka akan diberikan remedial, yaitu bantuan khusus yang diberikan kepada siswa yang mengalami kesulitan memahami suatu pokok bahasan tertentu. Sementara bagi siswa yang telah berhasil akan melanjutkan pada topik berikutnya, bahkan bagi mereka yang memiliki kemampuan yang lebih akan diberikan pengayaan, yaitu materi tambahan yang sifatnya perluasan dan pendalaman dari topik yang telah dibahas.

2. Sumatif

Evaluasi sumatif adalah evaluasi yang dilakukan pada setiap akhir satu satuan waktu yang didalamnya tercakup lebih dari satu pokok bahasan, dan dimaksudkan untuk mengetahui sejauhmana peserta didik telah dapat berpindah dari suatu unit ke unit berikutnya. Winkel mendefinisikan evaluasi sumatif sebagai penggunaan tes-tes pada akhir suatu periode pengajaran tertentu, yang meliputi beberapa atau semua unit pelajaran yang diajarkan dalam satu semester, bahkan setelah selesai pembahasan suatu bidang studi.

3. Diagnostik

Evaluasi diagnostik adalah evaluasi yang digunakan untuk mengetahui kelebihan-kelebihan dan kelemahan-kelemahan yang ada pada siswa sehingga dapat diberikan perlakuan yang tepat. Evaluasi diagnostik dapat dilakukan dalam beberapa tahapan, baik pada tahap awal, selama proses, maupun akhir pembelajaran. Pada tahap awal dilakukan terhadap calon siswa sebagai input. Dalam hal ini evaluasi diagnostik dilakukan untuk mengetahui kemampuan awal atau pengetahuan prasyarat yang harus dikuasai oleh siswa. Pada tahap proses evaluasi ini diperlukan untuk mengetahui bahan-bahan pelajaran mana yang masih belum dikuasai dengan baik, sehingga guru dapat memberi bantuan secara dini agar siswa tidak tertinggal terlalu jauh. Sementara pada tahap akhir evaluasi diagnostik ini untuk mengetahui tingkat penguasaan siswa atas seluruh materi yang telah dipelajarinya.

Perbandingan Tes Diagnostik, Tes Formatif, dan Tes Sumatif

Ditinjau dari

Tes Diagnostik

Tes Formatif

Tes Sumatif

Fungsinya

*mengelompokkan siswa berdasarkan kemampuannya

*menentukan kesulitan belajar yang dialami

*Umpan balik bagi siswa, guru maupun program untuk menilai pelaksanaan suatu unit program

*Memberi tanda telah mengikuti suatu program, dan menentukan posisi kemampuan siswa dibandingkan dengan anggota kelompoknya

cara memilih tujuan yang dievaluasi

*memilih tiap-tiap keterampilan prasarat

*memilih tujuan setiap program pembelajaran secara berimbang

*memilih yang berhubungan dengan tingkah laku fisik, mental dan perasaan

Mengukur semua tujuan instruksional khusus

Mengukur tujuan instruksional umum

Skoring (cara menyekor)

*menggunakan standar mutlak dan relatif

*menggunakan standar mutlak

*menggunakan standar relatif

F. Prinsip Evaluasi

Terdapat beberapa prinsip yang harus diperhatikan dalam melaksanakan evaluasi, agar mendapat informasi yang akurat, diantaranya:

1. Dirancang secara jelas abilitas yang harus dinilai, materi penilaian, alat penilaian, dan interpretasi hasil penilaian. à patokan : Kurikulum/silabi.

2. Penilaian hasil belajar menjadi bagian integral dalam proses belajar mengajar.

3. Agar hasil penilaian obyektif, gunakan berbagai alat penilaian dan sifatnya komprehensif.

4. Hasilnya hendaknya diikuti tindak lanjut.

Prinsip lain yang dikemukakan oleh Ngalim Purwanto adalah:

1. Penilaian hendaknya didasarkan pada hasil pengukuran yang komprehensif.

2. Harus dibedakan antara penskoran (scoring) dengan penilaian (grading)

3. Hendaknya disadari betul tujuan penggunaan pendekatan penilaian (PAP dan PAN)

4. Penilaian hendaknya merupakan bagian integral dalam proses belajar mengajar.

5. Penilaian harus bersifat komparabel.

6. Sistem penilaian yang digunakan hendaknya jelas bagi siswa dan guru.

G. Pendekatan Evaluasi

Ada dua jenis pendekatan penilaian yang dapat digunakan untuk menafsirkan sekor menjadi nilai. Kedua pendekatan ini memiliki tujuan, proses, standar dan juga akan menghasilkan nilai yang berbeda. Karena itulah pemilihan dengan tepat pendekatan yang akan digunakan menjadi penting. Kedua pendekatan itu adalah Pendekatan Acuan Norma (PAN) dan Pendekatan Acuan Patokan (PAP).

Sejalan dengan uraian di atas, Glaser (1963) yang dikutip oleh W. James Popham menyatakan bahwa terdapat dua strategi pengukuran yang mengarah pada dua perbedaan tujuan substansial, yaitu pengukuran acuan norma (NRM) yang berusaha menetapkan status relatif, dan pengukuran acuan kriteria (CRM) yang berusaha menetapkan status absolut. Sejalan dengan pendapat Glaser, Wiersma menyatakan norm-referenced interpretation is a relative interpretation based on an individual’s position with respect to some group. Glaser menggunakan konsep pengukuran acuan norma (Norm Reference Measurement / NRM) untuk menggambarkan tes prestasi siswa dengan menekankan pada tingkat ketajaman suatu pemahaman relatif siswa. Sedangkan untuk mengukur tes yang mengidentifikasi ketuntasan / ketidaktuntasan absolut siswa atas perilaku spesifik, menggunakan konsep pengukuran acuan kriteria (Criterion Reference Measurement).

1. Penilaian Acuan Patokan (PAP), Criterion Reference Test (CRT)

Tujuan penggunaan tes acuan patokan berfokus pada kelompok perilaku siswa yang khusus. Joesmani menyebutnya dengan didasarkan pada kriteria atau standard khusus. Dimaksudkan untuk mendapat gambaran yang jelas tentang performan peserta tes dengan tanpa memperhatikan bagaimana performan tersebut dibandingkan dengan performan yang lain. Dengan kata lain tes acuan kriteria digunakan untuk menyeleksi (secara pasti) status individual berkenaan dengan (mengenai) domain perilaku yang ditetapkan / dirumuskan dengan baik.

Pada pendekatan acuan patokan, standar performan yang digunakan adalah standar absolut. Semiawan menyebutnya sebagai standar mutu yang mutlak. Criterion-referenced interpretation is an absolut rather than relative interpetation, referenced to a defined body of learner behaviors. Dalam standar ini penentuan tingkatan (grade) didasarkan pada sekor-sekor yang telah ditetapkan sebelumnya dalam bentuk persentase. Untuk mendapatkan nilai A atau B, seorang siswa harus mendapatkan sekor tertentu sesuai dengan batas yang telah ditetapkan tanpa terpengaruh oleh performan (sekor) yang diperoleh siswa lain dalam kelasnya. Salah satu kelemahan dalam menggunakan standar absolut adalah sekor siswa bergantung pada tingkat kesulitan tes yang mereka terima. Artinya apabila tes yang diterima siswa mudah akan sangat mungkin para siswa mendapatkan nilai A atau B, dan sebaliknya apabila tes tersebut terlalu sulit untuk diselesaikan, maka kemungkinan untuk mendapat nilai A atau B menjadi sangat kecil. Namun kelemahan ini dapat diatasi dengan memperhatikan secara ketat tujuan yang akan diukur tingkat pencapaiannya.

Dalam menginterpretasi skor mentah menjadi nilai dengan menggunakan pendekatan PAP, maka terlebih dahulu ditentukan kriteria kelulusan dengan batas-batas nilai kelulusan. Umumnya kriteria nilai yang digunakan dalam bentuk rentang skor berikut:

Rentang Skor Nilai

80% s.d. 100% A

70% s.d. 79% B

60% s.d. 69% C

45% s.d. 59% D

< 44% E / Tidak lulus

2. Penilaian Acuan Norma (PAN), Norm Reference Test (NRT)

Tujuan penggunaan tes acuan norma biasanya lebih umum dan komprehensif dan meliputi suatu bidang isi dan tugas belajar yang besar. Tes acuan norma dimaksudkan untuk mengetahui status peserta tes dalam hubungannya dengan performans kelompok peserta yang lain yang telah mengikuti tes. Tes acuan kriteria Perbedaan lain yang mendasar antara pendekatan acuan norma dan pendekatan acuan patokan adalah pada standar performan yang digunakan.

Pada pendekatan acuan norma standar performan yang digunakan bersifat relatif. Artinya tingkat performan seorang siswa ditetapkan berdasarkan pada posisi relatif dalam kelompoknya; Tinggi rendahnya performan seorang siswa sangat bergantung pada kondisi performan kelompoknya. Dengan kata lain standar pengukuran yang digunakan ialah norma kelompok. Salah satu keuntungan dari standar relatif ini adalah penempatan sekor (performan) siswa dilakukan tanpa memandang kesulitan suatu tes secara teliti. Kekurangan dari penggunaan standar relatif diantaranya adalah (1) dianggap tidak adil, karena bagi mereka yang berada di kelas yang memiliki sekor yang tinggi, harus berusaha mendapatkan sekor yang lebih tinggi untuk mendapatkan nilai A atau B. Situasi seperti ini menjadi baik bagi motivasi beberapa siswa. (2) standar relatif membuat terjadinya persaingan yang kurang sehat diantara para siswa, karena pada saat seorang atau sekelompok siswa mendapat nilai A akan mengurangi kesempatan pada yang lain untuk mendapatkannya.

Contoh:

7. Satu kelompok peserta tes terdiri dari 9 orang mendapat skor mentah:

50, 45, 45, 40, 40, 40, 35, 35, 30

Dengan menggunakan pendekatan PAN, maka peserta tes yang mendapat skor tertinggi (50) akan mendapat nilai tertinggi, misalnya 10, sedangkan mereka yang mendapat skor di bawahnya akan mendapat nilai secara proporsional, yaitu 9, 9, 8, 8, 8, 7, 7, 6

Penentuan nilai dengan skor di atas dapat juga dihitung terlebih dahulu persentase jawaban benar. Kemudian kepada persentase tertinggi diberikan nilai tertinggi.

8. Sekelompok mahasiswa terdiri dari 40 orang dalam satu ujian mendapat nilai mentah sebagai berikut:

55 43 39 38 37 35 34 32

52 43 40 37 36 35 34 30

49 43 40 37 36 35 34 28

48 42 40 37 35 34 33 22

46 39 38 37 36 34 32 21

Penyebaran skor tersebut dapat ditulis sebagai berikut:

No

Skor Mentah

Jumlah Mahasiswa

Jika 55 diberi nilai 10 maka

1

55

1

10,0

2

52

1

9,5

3

49

1

9,0

4

48

1

8,7

5

46

1

8,4

6

43

3

7,8

7

42

1

7,6

8

40

3

7,3

9

39

2

7,1

10

38

2

6,9

11

37

5

6,7

12

36

4

6,5

13

35

3

6,4

14

34

4

6,2

15

33

2

6,0

16

32

2

5,8

17

30

1

5,5

18

28

1

5,1

19

22

1

4,0

20

21

1

3,8

 

Jumlah Mahasiswa

40

 

Jika skor mentah yang paling tinggi (55) diberi nilai 10 maka nilai untuk :

52 adalah (52/55) x 10 = 9,5

49 adalah (49/55) x 10 = 9,0 dan seterusnya

9. Bila jumlah pesertanya ratusan, maka untuk memberi nilainya menggunakan statistik sederhana untuk menentukan besarnya skor rata-rata kelompok dan simpangan baku kelompok (mean dan standard deviation) sehingga akan terjadi penyebaran kemampuan menurut kurva normal.

Menurut distribusi kurva normal, sekelompok mahasiswa yang memiliki skor di atas rata-rata 60 dalam kelompok itu adalah:

60 sampai dengan (60 + 2 S.B.) adalah 34,13%

(60 + 1 S.B.) sampai dengan (60 + 2 S.B.) adalah 13,59%

(60 + 2 S.B.) sampai dengan (60 + 3 S.B.) adalah 2,14%

Begitu juga dengan mahasiswa yang memiliki skor 60 ke bawah, adalah:

60 sampai dengan (60 – 2 S.B.) adalah 34,13%

(60 – 1 S.B.) sampai dengan (60 – 2 S.B.) adalah 13,59%

(60 – 2 S.B.) sampai dengan (60 – 3 S.B.) adalah 2,14%

Dengan kata lain mahasiswa yang mendapat skor antara (+1 S.B. s.d. -1 S.B.) adalah 68,26%, yang mendapat skor (+2 S.B. s.d. -2 S.B.) adalah 95,44%.

Dengan demikian dapat dibuat tabel konversi skor mentah ke dalam nilai 1-10.

Skor Mentah

Nilai 1 – 10

Skor rata-rata +2,25 S.B.

Skor rata-rata +1,75 S.B.

Skor rata-rata +1,25 S.B.

Skor rata-rata +0,75 S.B.

Skor rata-rata +0,25 S.B.

Skor rata-rata -0,25 S.B.

Skor rata-rata -0,75 S.B.

Skor rata-rata -1,25 S.B.

Skor rata-rata -1,75 S.B.

Skor rata-rata -2,25 S.B.

10

9

8

7

6

5

4

3

2

1

Catatan: mengacu pada kurikulum 1975

(Sumber : Prof. Nana Sudjana)


Radang Usus Buntu, kadang ada yang tiba tiba

Tidak semua usus buntu bermasalah. Hanya bila terjadi sumbatan di sana, usus buntu meradang.

Seringkali tanpa keluhan dan gejala yang nyata, lalu tiba-tiba saja jadi bermasalah. Mungkin terlambat ditangani, dan ujung-ujungnya berpotensi membahayakan nyawa.

Kasus yang terjadi pada diri saya sendiri, pada hari Rabu 10 Oktober 2007 3 hari menjelang lebaran 1428H, pada waktu itu saya siap beramngkat mudik ke cihami, namun pada saat akan berangkat ada yang terasa melilit seperti masuk angin atau sakit perut di bagian perut. Saya coba ke wc, namun tidak ada perubahan. Saya coba terlentang dan tertidur, bangun tidur malah tambah sakit. Saya dibopong istri saya ke bidan pengobatan yang memang sudah biasa menerima pengobatan, namun ke esokan harinya tetap saja sakit. Hari Kamis pagi makin menjadi, saya periksakan ke RS Bunut, hasilnya positif tipes. Saya minta dirawat di rumah saja dan saya janji akan istirahat total (tidur).

Hari Jumat pagi perut bagian bawah sakit sekali sehingga saya sampai pingsan menahan sakitnya. Kemudian saya dilarikan ke RS Hermina oleh istri atas bantuan tetangga. Rasa nyeri hilang dan saya sementara dinyatakan usus buntu. Agar lebih yakin koling Dr Fuji, menurut beliau positif usus buntu dan direkomendasikan konsul ke Dr Bedah (Bilven). Hasilnya, langsung puasa 4 jam kemudian di operasi.

Ternyata usus buntu yang saya alami telah pecah dan radang sejak lama. Hal yang berbeda dengan biasanya adalah saya tidak perasakan adanya atnda tanda itu, bahkan ketika akan di operasi, saya masih mampu mengangkat kaki kanan tinggi tinggi. setelah saya ingat ingat kembali, memang suka ada sedikit sakit (nyeletit) sebentar di bagian perut kanan bawah.

Mengapa Radang?

Dulu orang mengira radang usus buntu muncul bila sering makan cabai bersama bijinya atau jambu klutuk beserta bijinya.
Biji cabai dan biji jambu yang masuk ke usus buntu dianggap penyebabnya. Namun, fakta medisnya ternyata bukanlah itu.

Usus buntu itu bagaikan umbai cacing di pojokan usus besar, tempat tinja menumpuk. Tak jelas apa fungsinya. Diduga itu bagian tubuh yang sudah rudimenter (tersisa karena tak berguna). Tidak punah, tetapi tetap hadir, dan justru berpotensi menimbulkan masalah.

Masalah pada usus buntu timbul bila dia meradang. Normalnya usus seujung kelingking bayi ini tidak dimasuki oleh apa pun. Tidak pula oleh tinja. Namun, sewaktu-waktu, dengan penyebab yang tak selalu jelas, dia bisa juga mendadak meradang. Ada sedikitnya lima penyebab kenapa usus buntu mendadak jadi meradang. Tak ubahnya kelenjar amandel (tonsil di rongga mulut), usus buntu juga berisi kelenjar limfoid yang sama, bagian dari pertahanan tubuh mengenyahkan serangan ketika bibit penyakit datang. Kelenjar limfoid usus buntu akan membengkak bila meradang.

Kita tahu, dalam tinja dan usus, normalnya bisa saja dicemari oleh bibit penyakit. Kuman usus Escherichia coli paling sering jadi biang keladinya. Bila kuman usus ini tersasar memasuki usus buntu, disana infeksi lalu bersarang, dan usus buntu pun meradang.

Sama halnya dengan kelenjar tonsil di mulut, usus buntu pun jadi meradang lalu membengkak. Yang seperti ini yang paling sering terjadi.

Adanya tinja yang tersasar (faecolith) merupakan penyebab lain kenapa usus buntu meradang. Entah kenapa bisa terjadi. Mungkin tinja yang sudah mengeras tertahan kelewat lama di usus besar, sehingga punya kesempatan untuk tersasar, mungkin oleh gaya beratnya sendiri.

Peranan biji-bijian dalam tinja (yang sering tak tercerna), menimbulkan anggapan seolah hanya itu penyebab usus buntu meradang. Tinja yang kotor dan berkuman yang tersasar ke sana dianggap merupakan “benda asing” dan menimbulkan peradangan juga.

Penyebab lainnya adaiah bila ada “benda asing” selain tinja. Cacing misalnya. Cacing yang beternak di usus besar bisa tersasar memasuki usus buntu juga, dan usus buntu kemudian meradang.

Hal lainnya, kemungkinan sebelumnya usus buntu pernah meradang oleh penyebab yang berbeda, dan kemudian terjadi kerusakan jaringan (fibrosis) pada usus buntu. Jepitan atau pelintiran pada usus buntu sewaktu meradang, berakibat aliran cairan limfe dan darah tidak sempurna, sehingga usus buntu rusak, dan mungkin membusuk.

Bila usus buntu meradang, aliran limfe lalu terhambat. Awalnya pembuluh darah balik vena usus buntu saja yang tersumbat akibat usus buntu membengkak. Lama lama aliran darah pembuluh nadi arteri ikut tersumbat juga. Usus buntu yang terinfeksi kuman, lalu membengkak, cairan limfe dan darah yang mengalir kesana tersumbat, merupakan gambaran khas suatu peradangan usus buntu.

Hadirnya kuman dalam proses peradangan itu yang kemudian memproduksi nanah dalam usus buntu menyerupai bisul. Bila darah sudah tidak mengalir lagi ke dalam usus buntu, usus buntu akan membusuk (gangren) karena sudah tak mendapatkan makanan lagi.

Usus buntu yang bernanah dan membusuk yang kemudian bisa pecah, dan nanah tumpah mengisi rongga perut menimbulkan kondisi peritonitis atau radang rongga perut itu. Kondisi ini yang menimbulkan keadaan darurat perut (acute abdoment) dan perlu tindakan segera. Keadaan seperti begini yang dihadapi Tuan Ben, ketika itu.

Keluhan dan Gejala

Serangan peradangan usus buntu tidak selalu khas sebagaimana lazimnya. Yang khas, diawali dengan tidak enak perut, biasanya rasa tak enak perut di sekitar pusar.
Pada saat yang sama muncul demam ringan, disertai mual dan muntah-muntah. Mungkin diare, ada pula yang malah sembelit. Namun, yang pasti, nyeri tidak enak perut berlanjut, kendati sudah diredakan dengan obat.

Nyeri berkembang dari sekitar pusar, kemudian menyebar sampai ke perut kanan bawah. Tergantung posisi usus buntunya terhadap usus besar, rasa nyeri dan keluhan tak enak perut tidak selalu khas.

Apabila ujung usus buntu menyentuh saluran kencing ureter, nyerinya akan sama dengan sensasi nyeri kolik saluran kemih, dan mungkin ada gangguan berkemih. Bila posisi usus buntunya ke belakang, rasa nyeri muncul pada pemeriksaan tusuk dubur atau tusuk vagina. Pada posisi usus buntu yang lain, rasa nyeri mungkin tidak spesifik begitu.

Pada kasus peradangan usus buntu yang spesifik, akan muncul nyeri tekan pada perut kanan bawah. Nyeri semakin memberat dari jam ke jam. Selain nyeri bila ditekan, nyeri juga muncul bila setelah ditekan lalu segera dilepas (nyeri lepas). Nyeri yang sama pada perut kanan bawah akan timbul bila ditekan pada perut kiri bawah. Selain itu otot-otot dinding perut teraba menegang.

Pasien umumnya berbaring dengan tungkai kanan lebih ditekuk, dilakukan tanpa sadar untuk lebih mengendurkan otot dinding perut agar tidak menekan usus buntunya yang meradang. Nyeri perut yang semula tak begitu jelas, kemudian berangsur-angsur berubah menjadi nyeri tajam dan berlangsung terus menerus.

Bila dilakukan pemeriksaan, dengan perasat tungkai kanan dan paha ditekuk kuat, atau tungkai kanan diangkat tinggi-tinggi, nyeri di perut akan dimunculkan. Kecurigaan adanya peradangan usus buntu semakin bertambah bila pemeriksaan dubur dan atau vagina menimbulkan rasa nyeri juga. Suhu dubur (rectal) yang lebih tinggi dari suhu ketiak (axilla), lebih menunjang lagi adanya radang usus buntu.

Pemeriksaan laboratorium darah menunjukkan hitung darah putih yang meninggi (leucocytosis), dengan pergeseran jenis sel darah putih berbalik ke arah kiri. Hitung sel darah putih akan bertambah tinggi lagi bila usus buntu sudah pecah (perforasi).
(referensi : keluargasehat.com)


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.