Category Archives: Artikel umum

Shalat Dhuha


Shalat Dhuha 
adalah shalat sunat yang dilakukan/ dikerjakan pada waktu dhuha atau pada waktu pagi hari yang sudah agak meninggi sampai sebelum datangnya shalat dhuhur (antara pukul 07.00 sampai pukul 10.00 WIB). Jumlah bilangan raka’at shalat dhuha minimal dua raka’at dan maksimal dua belas raka’at dan dikerjakan setiap dua raka’at satu salam (jumlah raka’at shalat dhuha bisa dengan 2,4,8 atau 12 raka’at). Manfaat/ faedah shalat dhuha yang dapat diperoleh dan dirasakan oleh orang yang mengerjakannya/ melaksanakan shalat dhuha adalah dapat melapangkan dada dalam segala hal, terutama dalam hal rizki, sebab banyak orang yang terlibat dalam hal ini.

Ayat-ayat yang paling baik dibaca dalam shalat dhuha: surat al-Waqi’ah, surat Asy-Syamsi, surat Adh-Dhuha, surat al-Kafirun, surat al-Quraisy, surat al-Ikhlas, dsb. Cara mengerjakan shalat dhuha sama seperti mengerjakan shalat fardhu, baik bacaan maupun cara mengerjakannya.

Niat shalat dhuha:

Usholli sunnatadh-dhuha rok’ataini lillahi ta’alaa

(Saya niat shalat dhuha dua raka’at karena Allah ta’ala.)

  1. Pada rakaat pertama setelah Al-Fatihah membaca surat Asy-Syams
  2. Pada rakaat kedua membaca surat Adh-Dhuha

Doa yang selalu dibaca setelah selesai mengerjakan shalat dhuha:

 

Allahumma innadh dhuhaa-a dhuhaa-uka, walbahaa-a bahaa-uka, wal jamaala jamaaluka, wal quwwata quwwatuka, wal qudrata qudratuka, wal ishmata ishmatuk, Allahumma inkaana rizqi fis samma-i fa-anzilhu, wa inkaana fil ardhi fa-akhrijhu, wa inkaana mu’assiran fayassirhu, wainkaana haraaman fathahhirhu, wa inkaana ba’idan fa qaribhu, bihaqqi duhaa-ika wa bahaaika, wa jamaalika wa quwwatika wa qudratika, aatinii maa ataita ‘ibaadakash-sholihiin…

Artinya:

Wahai Tuhanku, sesungguhnya waktu dhuha adalah waktu dhuha-Mu, keagungan adalah keagungan-Mu, keindahan adalah keindahan-Mu, kekuatan adalah kekuatan-Mu, penjagaan adalah penjagaan-Mu. Wahai Tuhanku, apabila rizkiku berada di atas langit, maka turunkanlah; apabila berada di bumi maka keluarkanlah; apabila sukar maka mudahkanlah, apabila haram maka sucikanlah, apabila jauh maka dekatkanlah dengan kebenaran dhuha-Mu, kekuasaan-Mu (wahai Tuhanku), datangkanlah padaku apa yang Engkau datangkan kepada hamba-hamba-Mu yang shaleh…

Keutamaan Shalat Dhuha:

Dari Abu Dzar al-Ghifari ra, ia berkata bahwa Nabi Muahammad saw bersabda: “Di setiap sendiri seorang dari kamu terdapat sedekah, setiap tasbih (ucapan subhanallah) adalah sedekah, setiap tahmid (ucapan alhamdulillah) adalah sedekah, setiap tahlil (ucapan lailahaillallah) adalah sedekah, setiap takbir adalah sedekah, menyuruh kepada kebaikan adalah sedekah, mencegah dari kemungkaran adalah sedekah. Dan dua rakaat Dhuha diberi pahala” (HR Muslim).

Dari Abu Darda’ ra, ia berkata bahwa Rasulullah saw berkata: “Allah ta`ala berkata: “Wahai anak Adam, shalatlah untuk-Ku empat rakaat dari awal hari, maka Aku akan mencukupi kebutuhanmu (ganjaran) pada sore harinya” (Shahih al-Jami: 4339).

“Siapa pun yang melaksanakan shalat dhuha dengan langgeng, akan diampuni dosanya oleh Allah, sekalipun dosa itu sebanyak buih di lautan.” (HR Tirmidzi)

Di perintahkan kepadaku oleh kekasihku Nabi SAW untuk berpuasa 3 (tiga ) hari pada tiap-tiap bulan, mengerjakan 2 ( dua ) rakaat Shalat Sunnat Dhuha, dan supaya saya berwitir sebelum tidur.” ( HR Bukhari dan Muslim)

Tidak ada yang memelihara shalat dhuha kecuali orang-orang yang kembali kepada Allah (awwaabiin)” (HR. Ibnu Khuzaimah II/228, al Hakim dalam alMustadrak I/314 dan lainnya).

Dari Abu Umamah ra bahwa Rasulullah saw bersabda: “Barangsiapa yang keluar dari rumahnya dalam keadaan bersuci untuk melaksanakan shalat wajib, maka pahalanya seperti seorang yang melaksanakan haji. Barangsiapa yang keluar untuk melaksanakan shalat Dhuha, maka pahalanya seperti orang yang melaksanakan `umrah….(Shahih al-Targhib: 673). Dalam sebuah hadits yang lain disebutkan bahwa Nabi saw bersabda: “Barangsiapa yang mengerjakan shalat fajar (shubuh) berjamaah, kemudian ia (setelah usai) duduk mengingat Allah hingga terbit matahari, lalu ia shalat dua rakaat (Dhuha), ia mendapatkan pahala seperti pahala haji dan umrah; sempurna, sempurna, sempurna” (Shahih al-Jami`: 6346)

Waktu Shalat Dhuha

“Shalatnya orang-orang yang bertaubat adalah pada saat berdirinya anak unta karena teriknya matahari.” (HR. Muslim). Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin dan Syaikh Abdul ‘Aziz bin Baz rahimahumallah dalam Penjelasan Riyadush Shalihin menjelaskan bahwa sholat yang dimaksud adalah sholat Dhuha. Hadits ini juga menjelaskan bahwa waktu paling afdhol untuk melakukan sholat Dhuha adalah ketika matahari sudah terik.Anak-anak unta sudah bangun karena panas matahari itu diqiyaskan dengan pagi hari jam 08:00 AM, adapun sebelum jam itu dianggap belum ada matahari yang sinarnya dapat membangunkan anak onta.

Anjuran Sholat Dhuha

Dari Aisyah, ia berkata: “Saya tidak pernah sama sekali melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menunaikan shalat Dhuha, sedangkan saya sendiri mengerjakannya. Sesungguhnya Rasulullah SAW pasti akan meninggalkan sebuah perbuatan meskipun beliau menyukai untuk mengerjakannya. Beliau berbuat seperti itu karena khawatir jikalau orang-orang ikut mengerjakan amalan itu sehingga mereka menganggapnya sebagai ibadah yang hukumnya wajib (fardhu).”

Iklan

January Christy: Melayang

desc

via January Christy: Melayang.

Minumlah air hangat ketika/setelah makan…!

Please be a true friend and send this article to all your friends you care about. Serangan Jantung dan kebiasaan Minum Air Panas / hangat…. Artikel ini berguna untuk semua. Bukan saja anjuran meminum air panas selepas makan, tetapi berhubungan dengan SERANGAN JANTUNG!!!!. Secara logik…., mungkin ada kebenarannya. . Orang-orang China dan Jepang mengamalkan minum teh panas sewaktu makan… dan bukannya air ES. Mungkin sudah tiba masanya kita meniru kebiasaan minum air panas / hangat sewaktu menikmati hidangan!!!! Kita tidak akan kehilangan apa-apa… malah akan mendapat faedah dari kebiasaan ini. Kepada siapa yang suka minum air ES, artikel ini sesuai untuk anda baca.. Memang enak dan segar minum air ES selepas makan, tetapi akan berakibat fatal !! Walaubagaimanapun, Air ES akan membekukan makanan berminyak yang baru kita makan. Ia akan melambatkan proses pencernaan kita. Bila lemak-lemak ini terbentuk di dalam usus, ia akan menyempitkan banyak saluran dan lama kelamaan ia akan menyebabkan lemak berkumpul dan kita semakin gemuk dan menuju ke arah mendapat berbagai PENYAKIT. Jalan terbaik…adalah untuk minum sup panas atau air PANAS/hangat selepas makan. :Nota penting tentang SERANGAN JANTUNG!!! Anda perlu tahu bahwa tanda-tanda serangan jantung akan mulai terasa pada tangan sebelah kiri. Berhati-hati juga pada permulaan sakit sedikit-sedikit pada bagian atas dada anda. Anda mungkin tidak akan mengalami sakit dada pada serangan pertama serangan jantung. Keletihan dan berkeringat dingin adalah tanda-tanda pada umumnya.. Malah 60% pengidap SAKIT JANTUNG tidak bangun selepas tidur. Marilah kita berwaspada dan berhati-hati. Lebih banyak kita tahu, lebih cerah peluang kita untuk terus hidup… PAKAR SAKIT JANTUNG berkata, jika semua orang yang mendapat e-mail ini menghantar kepada 10 orang yang lain, beliau yakin akan dapat menyelamatkan satu nyawa.. Baca ini…. ia juga mungkin dapat menyelamatkan nyawa anda!!!!.

Sumber: Millis PSMK

Teknologi Pendidikan KURTEK FIP

DESKRIPSI MATA KULIAH

Mata kuliah ini mengkaji berbagai hal yang terkait dengan penelitian, dimulai dari konsep tentang penemuan ilmiah, hakekat tentang ilmu dan aplikasinya dalam penelitian ilmiah, pendekatan dan model penelitian, dan prosedur penelitian (perumusan masalah, hipotesis, kerangka berpikir, metodologi penelitian, pengujian, pembuatan kesimpulan, saran, dan rekomendasi), penyusunan proposal penelitian serta pembuatan laporan hasil penelitian.

PENGALAMAN BELAJAR

Pengalaman belajar yang dikembangkan dalam kegiatan perkuliahan ini meliputi kegiatan penalaran berbagai hal tentang penelitian yang dilakukan melalui kegiatan tatap muka di kelas berupa kegiatan ceramah dan diskusi kelompok, kegiatan terstruktur yang dilakukan melalui resitasi berupa penyusunan proposal penelitian, dan kegiatan lapangan dilakukan melalui resitasi kegiatan penelitian terbatas dan pembuatan laporan hasil penelitian.

EVALUASI HASIL BELAJAR

Keberhasilan dalam mengikuti mata kuliah ini didasarkan atas penilaian terhadap hasil-hasil pekerjaan mahasiswa, yang memenuhi persyaratan kehadiran minimal 80%, dalam meyelesaikan tugas (bobot 1), ujian tengah semester (bobot 2), dan ujian akhir semester (bobot 2). Skor akhir akan diolah dengan menggunakan Acuan Norma, dan dikonversi ke dalam nilai A B C D E.

URAIAN POKOK BAHASAN SETIAP PERTEMUAN

Pertemuan ke

Tujuan Umum Perkuliahan

Pokok Bahasan/ Sub Pokok Bahasan

1

Mahasiswa memahami keseluruhan program perkuliahan

Program perkuliahan: Tujuan, prasyarat, cakupan materi, kegiatan perkuliahan, penilaian dan rujukan

2

Mahasiswa memahami konsep-konsep penemuan ilmiah

Konsep-konsep penemuan ilmiah

3

Mahasiswa mengetahui hakikat ilmu dan aplikasinya dalam penelitian ilmiah

Ilmu dan aplikasinya dalam penelitian ilmiah dalam paradigma penelitian

kuantitatif dan kualitatif

4 dan 5

Mahasiswa mengetahu model-model penelitian

Model-model penelitian:

Penelitian Kuantitatif

Penelitian Kualitatif

Penelitian Tindakan Kelas (PTK)

6

Mahasiswa dapat merumuskan masalah dan variabel penelitian

Masalah dan Variabel penelitian

– Sumber masalah

– teknik perumusan maslah

-Jenis variabel

– Definisi variabel

7

Mahasiswa dapat merumuskan kajian teori, kerangka berfikir dan hipotesis penelitian

– Landasan teori

– Kerangka berfikir

– Rumusan hipotesis penelitian

8

Ujian Tengah Semes ( U T S )

9 dan 10

Mahasiswa dapat merumuskan metodologi penelitaian

Metodologi penelitian

– Populasi dan sampel

– Metode. desain dan konstelasi penelitian

– Teknik pengumpulan data dan instrumen penelitian

– Teknik pengolahan dan analisis data

– Rumusan hipotesis statistik

11

Mahasiswa mengetahui cara mendeskripsikan hasil penelitian dan pengujian hipotesis serta pembahasan

– Deskripsi hasil penelitian

– Uji persayaratan analisis

-Uji hipotesis penelitian

– Penafsiran dan pembahasan hasil penelitian

12

Mahasiswa dapat merumuskan kesimpulan, implikasi dan saran/rekomendasi

– Cara merumuskan kesimpulan

– Cara mengungkapkan saran dan implikasi

13

Mahasiswa memahami teknik penulisan laporan hasil penelitian

– Format dan sistimatika laporan hasil penelitian (bentuk skripsi)

– Teknik pembuatan catatan kaki

14

Mahasiswa memahami cara-cara membuat proposal/rancangan penelitian

Struktur/ sistematika dan isi proposal penelitian

15 dan 16

Mahasiswa daopat menulis proposal penelitaian

Konsultasi penulisan proposal

DAFTAR LITERATUR

Nana Sudjana & R. Ibrahim, Penelitian Pendidikan, (Bandung : Sumber Baru, 1989)

Nana Sudjana, Tuntunan Penyusunan Karya Ilmiah, (Bandung : Sinar Baru, 1991)

Mohammad Ali, Strategi Penelitian Pendidikan, ( Bandung : PT Angkasa, 1993)

S. Nasution, Metodologi Penelitian Naturalistik Kualitatif, (Bandung : Tarsito, 1988)

Frankel, R. & E. Wallen, How to Design and Evaluate Research in Education, McGraw Hill, Inc.

Masri Singarimbun, dkk. Metode Penelitian Survey, (Jakarta : LP3ES, 1989).

Hadari Nawawi dan Martini, Instrumen Penelitian Bidang Sosial, (Yogyakarta : Gadjah Mada Press, 1992

Emanuel, J Mason, Understanding and Conducting Research,/ Aplication in education and the behavioral science, (McGraw Hill. Inc, 1989)

Bogdan C.Robert & Sari Knopp Biklen, Qualitative Research for Education, Boston : Allyn and Bacon, 1992

LITERARTUR TAMBAHAN

Literatur tambahan diambil dari beberapa jurnal dan searching dari Internet seauai dengan kebutuhan mahasiswa.

DOSEN DAPAT DIHUBUNGI MELALUI :

Prof. Dr. H. Nana Sudjana

KURTEK FIP UPI Telp. 022-2013163 ext. 4311

Drs. Toto Fathoni, M.Pd.

HP. 08122377248 atau P3MP UPI Telp. 022-2013163 ext. 2201

Drs. Tatang Syarifudin, M.Pd.

HP. 081320697000 atau KURTEK FIP UPI Telp. 022-2013163 ext. 4311

Drs. Rudi Susilana, M.Si.

HP. 08122488283

e_mail: rudi_susilana@yahoo.com atau skurtek@upi.edu

KURTEK FIP UPI Telp. 022-2013163 ext. 4311

KONSEP DASAR EVALUASI HASIL BELAJAR

Pengertian Pengukuran, Penilaian dan Evaluasi

Wiersma dan Jurs membedakan antara evaluasi, pengukuran dan testing. Mereka berpendapat bahwa evaluasi adalah suatu proses yang mencakup pengukuran dan mungkin juga testing, yang juga berisi pengambilan keputusan tentang nilai. Pendapat ini sejalan dengan pendapat Arikunto yang menyatakan bahwa evaluasi merupakan kegiatan mengukur dan menilai. Kedua pendapat di atas secara implisit menyatakan bahwa evaluasi memiliki cakupan yang lebih luas daripada pengukuran dan testing.

Ralph W. Tyler, yang dikutif oleh Brinkerhoff dkk. Mendefinisikan evaluasi sedikit berbeda. Ia menyatakan bahwa evaluation as the process of determining to what extent the educational objectives are actually being realized. Sementara Daniel Stufflebeam (1971) yang dikutip oleh Nana Syaodih S., menyatakan bahwa evaluation is the process of delinating, obtaining and providing useful information for judging decision alternatif. Demikian juga dengan Michael Scriven (1969) menyatakan evaluation is an observed value compared to some standard. Beberapa definisi terakhir ini menyoroti evaluasi sebagai sarana untuk mendapatkan informasi yang diperoleh dari proses pengumpulan dan pengolahan data.

Sementara itu Asmawi Zainul dan Noehi Nasution mengartikan pengukuran sebagai pemberian angka kepada suatu atribut atau karakteristik tertentu yang dimiliki oleh orang, hal, atau obyek tertentu menurut aturan atau formulasi yang jelas, sedangkan penilaian adalah suatu proses untuk mengambil keputusan dengan menggunakan informasi yang diperoleh melalui pengukuran hasil belajar baik yang menggunakan tes maupun nontes. Pendapat ini sejalan dengan pendapat Suharsimi Arikunto yang membedakan antara pengukuran, penilaian, dan evaluasi. Arikunto menyatakan bahwa mengukur adalah membandingkan sesuatu dengan satu ukuran. Pengukuran bersifat kuantitatif. Sedangkan menilai adalah mengambil suatu keputusan terhadap sesuatu dengan ukuran baik buruk. Penilaian bersifat kualitatif. Hasil pengukuran yang bersifat kuantitatif juga dikemukakan oleh Norman E. Gronlund (1971) yang menyatakan “Measurement is limited to quantitative descriptions of pupil behavior

Pengertian penilaian yang ditekankan pada penentuan nilai suatu obyek juga dikemukakan oleh Nana Sudjana. Ia menyatakan bahwa penilaian adalah proses menentukan nilai suatu obyek dengan menggunakan ukuran atau kriteria tertentu, seperti Baik , Sedang, Jelek. Seperti juga halnya yang dikemukakan oleh Richard H. Lindeman (1967) “The assignment of one or a set of numbers to each of a set of person or objects according to certain established rules

B. Tujuan Evaluasi

Sebagaimana diuraikan pada bagian terdahulu bahwa evaluasi dilaksanakan dengan berbagai tujuan. Khusus terkait dengan pembelajaran, evaluasi dilaksanakan dengan tujuan:

1. Mendeskripsikan kemampuan belajar siswa.

2. mengetahui tingkat keberhasilan PBM

3. menentukan tindak lanjut hasil penilaian

4. memberikan pertanggung jawaban (accountability)

C. Fungsi Evaluasi

Sejalan dengan tujuan evaluasi di atas, evaluasi yang dilakukan juga memiliki banyak fungsi, diantaranya adalah fungsi:

1. Selektif

2. Diagnostik

3. Penempatan

4. Pengukur keberhasilan

Selain keempat fungsi di atas Asmawi Zainul dan Noehi Nasution menyatakan masih ada fungsi-fungsi lain dari evaluasi pembelajaran, yaitu fungsi:

1. Remedial

2. Umpan balik

3. Memotivasi dan membimbing anak

4. Perbaikan kurikulum dan program pendidikan

5. Pengembangan ilmu

D. Manfaat Evaluasi

Secara umum manfaat yang dapat diambil dari kegiatan evaluasi dalam pembelajaran, yaitu :

1. Memahami sesuatu : mahasiswa (entry behavior, motivasi, dll), sarana dan prasarana, dan kondisi dosen

2. Membuat keputusan : kelanjutan program, penanganan “masalah”, dll

3. Meningkatkan kualitas PBM : komponen-komponen PBM

Sementara secara lebih khusus evaluasi akan memberi manfaat bagi pihak-pihak yang terkait dengan pembelajaran, seperti siswa, guru, dan kepala sekolah.
Bagi  Siswa

Mengetahui tingkat pencapaian tujuan pembelajaran : Memuaskan atau tidak memuaskan

Bagi Guru

1. mendeteksi siswa yang telah dan belum menguasai tujuan : melanjutkan, remedial atau pengayaan

2. ketepatan materi yang diberikan : jenis, lingkup, tingkat kesulitan, dll.

3. ketepatan metode yang digunakan

Bagi Sekolah

1. hasil belajar cermin kualitas sekolah

2. membuat program sekolah

3. pemenuhan standar

E. Macam-macam Evaluasi

1. Formatif

Evaluasi formatif adalah evaluasi yang dilakukan pada setiap akhir pembahasan suatu pokok bahasan / topik, dan dimaksudkan untuk mengetahui sejauh manakah suatu proses pembelajaran telah berjalan sebagaimana yang direncanakan. Winkel menyatakan bahwa yang dimaksud dengan evaluasi formatif adalah penggunaan tes-tes selama proses pembelajaran yang masih berlangsung, agar siswa dan guru memperoleh informasi (feedback) mengenai kemajuan yang telah dicapai. Sementara Tesmer menyatakan formative evaluation is a judgement of the strengths and weakness of instruction in its developing stages, for purpose of revising the instruction to improve its effectiveness and appeal. Evaluasi ini dimaksudkan untuk mengontrol sampai seberapa jauh siswa telah menguasai materi yang diajarkan pada pokok bahasan tersebut. Wiersma menyatakan formative testing is done to monitor student progress over period of time. Ukuran keberhasilan atau kemajuan siswa dalam evaluasi ini adalah penguasaan kemampuan yang telah dirumuskan dalam rumusan tujuan (TIK) yang telah ditetapkan sebelumnya. TIK yang akan dicapai pada setiap pembahasan suatu pokok bahasan, dirumuskan dengan mengacu pada tingkat kematangan siswa. Artinya TIK dirumuskan dengan memperhatikan kemampuan awal anak dan tingkat kesulitan yang wajar yang diperkiran masih sangat mungkin dijangkau/ dikuasai dengan kemampuan yang dimiliki siswa. Dengan kata lain evaluasi formatif dilaksanakan untuk mengetahui seberapa jauh tujuan yang telah ditetapkan telah tercapai. Dari hasil evaluasi ini akan diperoleh gambaran siapa saja yang telah berhasil dan siapa yang dianggap belum berhasil untuk selanjutnya diambil tindakan-tindakan yang tepat. Tindak lanjut dari evaluasi ini adalah bagi para siswa yang belum berhasil maka akan diberikan remedial, yaitu bantuan khusus yang diberikan kepada siswa yang mengalami kesulitan memahami suatu pokok bahasan tertentu. Sementara bagi siswa yang telah berhasil akan melanjutkan pada topik berikutnya, bahkan bagi mereka yang memiliki kemampuan yang lebih akan diberikan pengayaan, yaitu materi tambahan yang sifatnya perluasan dan pendalaman dari topik yang telah dibahas.

2. Sumatif

Evaluasi sumatif adalah evaluasi yang dilakukan pada setiap akhir satu satuan waktu yang didalamnya tercakup lebih dari satu pokok bahasan, dan dimaksudkan untuk mengetahui sejauhmana peserta didik telah dapat berpindah dari suatu unit ke unit berikutnya. Winkel mendefinisikan evaluasi sumatif sebagai penggunaan tes-tes pada akhir suatu periode pengajaran tertentu, yang meliputi beberapa atau semua unit pelajaran yang diajarkan dalam satu semester, bahkan setelah selesai pembahasan suatu bidang studi.

3. Diagnostik

Evaluasi diagnostik adalah evaluasi yang digunakan untuk mengetahui kelebihan-kelebihan dan kelemahan-kelemahan yang ada pada siswa sehingga dapat diberikan perlakuan yang tepat. Evaluasi diagnostik dapat dilakukan dalam beberapa tahapan, baik pada tahap awal, selama proses, maupun akhir pembelajaran. Pada tahap awal dilakukan terhadap calon siswa sebagai input. Dalam hal ini evaluasi diagnostik dilakukan untuk mengetahui kemampuan awal atau pengetahuan prasyarat yang harus dikuasai oleh siswa. Pada tahap proses evaluasi ini diperlukan untuk mengetahui bahan-bahan pelajaran mana yang masih belum dikuasai dengan baik, sehingga guru dapat memberi bantuan secara dini agar siswa tidak tertinggal terlalu jauh. Sementara pada tahap akhir evaluasi diagnostik ini untuk mengetahui tingkat penguasaan siswa atas seluruh materi yang telah dipelajarinya.

Perbandingan Tes Diagnostik, Tes Formatif, dan Tes Sumatif

Ditinjau dari

Tes Diagnostik

Tes Formatif

Tes Sumatif

Fungsinya

*mengelompokkan siswa berdasarkan kemampuannya

*menentukan kesulitan belajar yang dialami

*Umpan balik bagi siswa, guru maupun program untuk menilai pelaksanaan suatu unit program

*Memberi tanda telah mengikuti suatu program, dan menentukan posisi kemampuan siswa dibandingkan dengan anggota kelompoknya

cara memilih tujuan yang dievaluasi

*memilih tiap-tiap keterampilan prasarat

*memilih tujuan setiap program pembelajaran secara berimbang

*memilih yang berhubungan dengan tingkah laku fisik, mental dan perasaan

Mengukur semua tujuan instruksional khusus

Mengukur tujuan instruksional umum

Skoring (cara menyekor)

*menggunakan standar mutlak dan relatif

*menggunakan standar mutlak

*menggunakan standar relatif

F. Prinsip Evaluasi

Terdapat beberapa prinsip yang harus diperhatikan dalam melaksanakan evaluasi, agar mendapat informasi yang akurat, diantaranya:

1. Dirancang secara jelas abilitas yang harus dinilai, materi penilaian, alat penilaian, dan interpretasi hasil penilaian. à patokan : Kurikulum/silabi.

2. Penilaian hasil belajar menjadi bagian integral dalam proses belajar mengajar.

3. Agar hasil penilaian obyektif, gunakan berbagai alat penilaian dan sifatnya komprehensif.

4. Hasilnya hendaknya diikuti tindak lanjut.

Prinsip lain yang dikemukakan oleh Ngalim Purwanto adalah:

1. Penilaian hendaknya didasarkan pada hasil pengukuran yang komprehensif.

2. Harus dibedakan antara penskoran (scoring) dengan penilaian (grading)

3. Hendaknya disadari betul tujuan penggunaan pendekatan penilaian (PAP dan PAN)

4. Penilaian hendaknya merupakan bagian integral dalam proses belajar mengajar.

5. Penilaian harus bersifat komparabel.

6. Sistem penilaian yang digunakan hendaknya jelas bagi siswa dan guru.

G. Pendekatan Evaluasi

Ada dua jenis pendekatan penilaian yang dapat digunakan untuk menafsirkan sekor menjadi nilai. Kedua pendekatan ini memiliki tujuan, proses, standar dan juga akan menghasilkan nilai yang berbeda. Karena itulah pemilihan dengan tepat pendekatan yang akan digunakan menjadi penting. Kedua pendekatan itu adalah Pendekatan Acuan Norma (PAN) dan Pendekatan Acuan Patokan (PAP).

Sejalan dengan uraian di atas, Glaser (1963) yang dikutip oleh W. James Popham menyatakan bahwa terdapat dua strategi pengukuran yang mengarah pada dua perbedaan tujuan substansial, yaitu pengukuran acuan norma (NRM) yang berusaha menetapkan status relatif, dan pengukuran acuan kriteria (CRM) yang berusaha menetapkan status absolut. Sejalan dengan pendapat Glaser, Wiersma menyatakan norm-referenced interpretation is a relative interpretation based on an individual’s position with respect to some group. Glaser menggunakan konsep pengukuran acuan norma (Norm Reference Measurement / NRM) untuk menggambarkan tes prestasi siswa dengan menekankan pada tingkat ketajaman suatu pemahaman relatif siswa. Sedangkan untuk mengukur tes yang mengidentifikasi ketuntasan / ketidaktuntasan absolut siswa atas perilaku spesifik, menggunakan konsep pengukuran acuan kriteria (Criterion Reference Measurement).

1. Penilaian Acuan Patokan (PAP), Criterion Reference Test (CRT)

Tujuan penggunaan tes acuan patokan berfokus pada kelompok perilaku siswa yang khusus. Joesmani menyebutnya dengan didasarkan pada kriteria atau standard khusus. Dimaksudkan untuk mendapat gambaran yang jelas tentang performan peserta tes dengan tanpa memperhatikan bagaimana performan tersebut dibandingkan dengan performan yang lain. Dengan kata lain tes acuan kriteria digunakan untuk menyeleksi (secara pasti) status individual berkenaan dengan (mengenai) domain perilaku yang ditetapkan / dirumuskan dengan baik.

Pada pendekatan acuan patokan, standar performan yang digunakan adalah standar absolut. Semiawan menyebutnya sebagai standar mutu yang mutlak. Criterion-referenced interpretation is an absolut rather than relative interpetation, referenced to a defined body of learner behaviors. Dalam standar ini penentuan tingkatan (grade) didasarkan pada sekor-sekor yang telah ditetapkan sebelumnya dalam bentuk persentase. Untuk mendapatkan nilai A atau B, seorang siswa harus mendapatkan sekor tertentu sesuai dengan batas yang telah ditetapkan tanpa terpengaruh oleh performan (sekor) yang diperoleh siswa lain dalam kelasnya. Salah satu kelemahan dalam menggunakan standar absolut adalah sekor siswa bergantung pada tingkat kesulitan tes yang mereka terima. Artinya apabila tes yang diterima siswa mudah akan sangat mungkin para siswa mendapatkan nilai A atau B, dan sebaliknya apabila tes tersebut terlalu sulit untuk diselesaikan, maka kemungkinan untuk mendapat nilai A atau B menjadi sangat kecil. Namun kelemahan ini dapat diatasi dengan memperhatikan secara ketat tujuan yang akan diukur tingkat pencapaiannya.

Dalam menginterpretasi skor mentah menjadi nilai dengan menggunakan pendekatan PAP, maka terlebih dahulu ditentukan kriteria kelulusan dengan batas-batas nilai kelulusan. Umumnya kriteria nilai yang digunakan dalam bentuk rentang skor berikut:

Rentang Skor Nilai

80% s.d. 100% A

70% s.d. 79% B

60% s.d. 69% C

45% s.d. 59% D

< 44% E / Tidak lulus

2. Penilaian Acuan Norma (PAN), Norm Reference Test (NRT)

Tujuan penggunaan tes acuan norma biasanya lebih umum dan komprehensif dan meliputi suatu bidang isi dan tugas belajar yang besar. Tes acuan norma dimaksudkan untuk mengetahui status peserta tes dalam hubungannya dengan performans kelompok peserta yang lain yang telah mengikuti tes. Tes acuan kriteria Perbedaan lain yang mendasar antara pendekatan acuan norma dan pendekatan acuan patokan adalah pada standar performan yang digunakan.

Pada pendekatan acuan norma standar performan yang digunakan bersifat relatif. Artinya tingkat performan seorang siswa ditetapkan berdasarkan pada posisi relatif dalam kelompoknya; Tinggi rendahnya performan seorang siswa sangat bergantung pada kondisi performan kelompoknya. Dengan kata lain standar pengukuran yang digunakan ialah norma kelompok. Salah satu keuntungan dari standar relatif ini adalah penempatan sekor (performan) siswa dilakukan tanpa memandang kesulitan suatu tes secara teliti. Kekurangan dari penggunaan standar relatif diantaranya adalah (1) dianggap tidak adil, karena bagi mereka yang berada di kelas yang memiliki sekor yang tinggi, harus berusaha mendapatkan sekor yang lebih tinggi untuk mendapatkan nilai A atau B. Situasi seperti ini menjadi baik bagi motivasi beberapa siswa. (2) standar relatif membuat terjadinya persaingan yang kurang sehat diantara para siswa, karena pada saat seorang atau sekelompok siswa mendapat nilai A akan mengurangi kesempatan pada yang lain untuk mendapatkannya.

Contoh:

7. Satu kelompok peserta tes terdiri dari 9 orang mendapat skor mentah:

50, 45, 45, 40, 40, 40, 35, 35, 30

Dengan menggunakan pendekatan PAN, maka peserta tes yang mendapat skor tertinggi (50) akan mendapat nilai tertinggi, misalnya 10, sedangkan mereka yang mendapat skor di bawahnya akan mendapat nilai secara proporsional, yaitu 9, 9, 8, 8, 8, 7, 7, 6

Penentuan nilai dengan skor di atas dapat juga dihitung terlebih dahulu persentase jawaban benar. Kemudian kepada persentase tertinggi diberikan nilai tertinggi.

8. Sekelompok mahasiswa terdiri dari 40 orang dalam satu ujian mendapat nilai mentah sebagai berikut:

55 43 39 38 37 35 34 32

52 43 40 37 36 35 34 30

49 43 40 37 36 35 34 28

48 42 40 37 35 34 33 22

46 39 38 37 36 34 32 21

Penyebaran skor tersebut dapat ditulis sebagai berikut:

No

Skor Mentah

Jumlah Mahasiswa

Jika 55 diberi nilai 10 maka

1

55

1

10,0

2

52

1

9,5

3

49

1

9,0

4

48

1

8,7

5

46

1

8,4

6

43

3

7,8

7

42

1

7,6

8

40

3

7,3

9

39

2

7,1

10

38

2

6,9

11

37

5

6,7

12

36

4

6,5

13

35

3

6,4

14

34

4

6,2

15

33

2

6,0

16

32

2

5,8

17

30

1

5,5

18

28

1

5,1

19

22

1

4,0

20

21

1

3,8

 

Jumlah Mahasiswa

40

 

Jika skor mentah yang paling tinggi (55) diberi nilai 10 maka nilai untuk :

52 adalah (52/55) x 10 = 9,5

49 adalah (49/55) x 10 = 9,0 dan seterusnya

9. Bila jumlah pesertanya ratusan, maka untuk memberi nilainya menggunakan statistik sederhana untuk menentukan besarnya skor rata-rata kelompok dan simpangan baku kelompok (mean dan standard deviation) sehingga akan terjadi penyebaran kemampuan menurut kurva normal.

Menurut distribusi kurva normal, sekelompok mahasiswa yang memiliki skor di atas rata-rata 60 dalam kelompok itu adalah:

60 sampai dengan (60 + 2 S.B.) adalah 34,13%

(60 + 1 S.B.) sampai dengan (60 + 2 S.B.) adalah 13,59%

(60 + 2 S.B.) sampai dengan (60 + 3 S.B.) adalah 2,14%

Begitu juga dengan mahasiswa yang memiliki skor 60 ke bawah, adalah:

60 sampai dengan (60 – 2 S.B.) adalah 34,13%

(60 – 1 S.B.) sampai dengan (60 – 2 S.B.) adalah 13,59%

(60 – 2 S.B.) sampai dengan (60 – 3 S.B.) adalah 2,14%

Dengan kata lain mahasiswa yang mendapat skor antara (+1 S.B. s.d. -1 S.B.) adalah 68,26%, yang mendapat skor (+2 S.B. s.d. -2 S.B.) adalah 95,44%.

Dengan demikian dapat dibuat tabel konversi skor mentah ke dalam nilai 1-10.

Skor Mentah

Nilai 1 – 10

Skor rata-rata +2,25 S.B.

Skor rata-rata +1,75 S.B.

Skor rata-rata +1,25 S.B.

Skor rata-rata +0,75 S.B.

Skor rata-rata +0,25 S.B.

Skor rata-rata -0,25 S.B.

Skor rata-rata -0,75 S.B.

Skor rata-rata -1,25 S.B.

Skor rata-rata -1,75 S.B.

Skor rata-rata -2,25 S.B.

10

9

8

7

6

5

4

3

2

1

Catatan: mengacu pada kurikulum 1975

(Sumber : Prof. Nana Sudjana)

Radang Usus Buntu, kadang ada yang tiba tiba

Tidak semua usus buntu bermasalah. Hanya bila terjadi sumbatan di sana, usus buntu meradang.

Seringkali tanpa keluhan dan gejala yang nyata, lalu tiba-tiba saja jadi bermasalah. Mungkin terlambat ditangani, dan ujung-ujungnya berpotensi membahayakan nyawa.

Kasus yang terjadi pada diri saya sendiri, pada hari Rabu 10 Oktober 2007 3 hari menjelang lebaran 1428H, pada waktu itu saya siap beramngkat mudik ke cihami, namun pada saat akan berangkat ada yang terasa melilit seperti masuk angin atau sakit perut di bagian perut. Saya coba ke wc, namun tidak ada perubahan. Saya coba terlentang dan tertidur, bangun tidur malah tambah sakit. Saya dibopong istri saya ke bidan pengobatan yang memang sudah biasa menerima pengobatan, namun ke esokan harinya tetap saja sakit. Hari Kamis pagi makin menjadi, saya periksakan ke RS Bunut, hasilnya positif tipes. Saya minta dirawat di rumah saja dan saya janji akan istirahat total (tidur).

Hari Jumat pagi perut bagian bawah sakit sekali sehingga saya sampai pingsan menahan sakitnya. Kemudian saya dilarikan ke RS Hermina oleh istri atas bantuan tetangga. Rasa nyeri hilang dan saya sementara dinyatakan usus buntu. Agar lebih yakin koling Dr Fuji, menurut beliau positif usus buntu dan direkomendasikan konsul ke Dr Bedah (Bilven). Hasilnya, langsung puasa 4 jam kemudian di operasi.

Ternyata usus buntu yang saya alami telah pecah dan radang sejak lama. Hal yang berbeda dengan biasanya adalah saya tidak perasakan adanya atnda tanda itu, bahkan ketika akan di operasi, saya masih mampu mengangkat kaki kanan tinggi tinggi. setelah saya ingat ingat kembali, memang suka ada sedikit sakit (nyeletit) sebentar di bagian perut kanan bawah.

Mengapa Radang?

Dulu orang mengira radang usus buntu muncul bila sering makan cabai bersama bijinya atau jambu klutuk beserta bijinya.
Biji cabai dan biji jambu yang masuk ke usus buntu dianggap penyebabnya. Namun, fakta medisnya ternyata bukanlah itu.

Usus buntu itu bagaikan umbai cacing di pojokan usus besar, tempat tinja menumpuk. Tak jelas apa fungsinya. Diduga itu bagian tubuh yang sudah rudimenter (tersisa karena tak berguna). Tidak punah, tetapi tetap hadir, dan justru berpotensi menimbulkan masalah.

Masalah pada usus buntu timbul bila dia meradang. Normalnya usus seujung kelingking bayi ini tidak dimasuki oleh apa pun. Tidak pula oleh tinja. Namun, sewaktu-waktu, dengan penyebab yang tak selalu jelas, dia bisa juga mendadak meradang. Ada sedikitnya lima penyebab kenapa usus buntu mendadak jadi meradang. Tak ubahnya kelenjar amandel (tonsil di rongga mulut), usus buntu juga berisi kelenjar limfoid yang sama, bagian dari pertahanan tubuh mengenyahkan serangan ketika bibit penyakit datang. Kelenjar limfoid usus buntu akan membengkak bila meradang.

Kita tahu, dalam tinja dan usus, normalnya bisa saja dicemari oleh bibit penyakit. Kuman usus Escherichia coli paling sering jadi biang keladinya. Bila kuman usus ini tersasar memasuki usus buntu, disana infeksi lalu bersarang, dan usus buntu pun meradang.

Sama halnya dengan kelenjar tonsil di mulut, usus buntu pun jadi meradang lalu membengkak. Yang seperti ini yang paling sering terjadi.

Adanya tinja yang tersasar (faecolith) merupakan penyebab lain kenapa usus buntu meradang. Entah kenapa bisa terjadi. Mungkin tinja yang sudah mengeras tertahan kelewat lama di usus besar, sehingga punya kesempatan untuk tersasar, mungkin oleh gaya beratnya sendiri.

Peranan biji-bijian dalam tinja (yang sering tak tercerna), menimbulkan anggapan seolah hanya itu penyebab usus buntu meradang. Tinja yang kotor dan berkuman yang tersasar ke sana dianggap merupakan “benda asing” dan menimbulkan peradangan juga.

Penyebab lainnya adaiah bila ada “benda asing” selain tinja. Cacing misalnya. Cacing yang beternak di usus besar bisa tersasar memasuki usus buntu juga, dan usus buntu kemudian meradang.

Hal lainnya, kemungkinan sebelumnya usus buntu pernah meradang oleh penyebab yang berbeda, dan kemudian terjadi kerusakan jaringan (fibrosis) pada usus buntu. Jepitan atau pelintiran pada usus buntu sewaktu meradang, berakibat aliran cairan limfe dan darah tidak sempurna, sehingga usus buntu rusak, dan mungkin membusuk.

Bila usus buntu meradang, aliran limfe lalu terhambat. Awalnya pembuluh darah balik vena usus buntu saja yang tersumbat akibat usus buntu membengkak. Lama lama aliran darah pembuluh nadi arteri ikut tersumbat juga. Usus buntu yang terinfeksi kuman, lalu membengkak, cairan limfe dan darah yang mengalir kesana tersumbat, merupakan gambaran khas suatu peradangan usus buntu.

Hadirnya kuman dalam proses peradangan itu yang kemudian memproduksi nanah dalam usus buntu menyerupai bisul. Bila darah sudah tidak mengalir lagi ke dalam usus buntu, usus buntu akan membusuk (gangren) karena sudah tak mendapatkan makanan lagi.

Usus buntu yang bernanah dan membusuk yang kemudian bisa pecah, dan nanah tumpah mengisi rongga perut menimbulkan kondisi peritonitis atau radang rongga perut itu. Kondisi ini yang menimbulkan keadaan darurat perut (acute abdoment) dan perlu tindakan segera. Keadaan seperti begini yang dihadapi Tuan Ben, ketika itu.

Keluhan dan Gejala

Serangan peradangan usus buntu tidak selalu khas sebagaimana lazimnya. Yang khas, diawali dengan tidak enak perut, biasanya rasa tak enak perut di sekitar pusar.
Pada saat yang sama muncul demam ringan, disertai mual dan muntah-muntah. Mungkin diare, ada pula yang malah sembelit. Namun, yang pasti, nyeri tidak enak perut berlanjut, kendati sudah diredakan dengan obat.

Nyeri berkembang dari sekitar pusar, kemudian menyebar sampai ke perut kanan bawah. Tergantung posisi usus buntunya terhadap usus besar, rasa nyeri dan keluhan tak enak perut tidak selalu khas.

Apabila ujung usus buntu menyentuh saluran kencing ureter, nyerinya akan sama dengan sensasi nyeri kolik saluran kemih, dan mungkin ada gangguan berkemih. Bila posisi usus buntunya ke belakang, rasa nyeri muncul pada pemeriksaan tusuk dubur atau tusuk vagina. Pada posisi usus buntu yang lain, rasa nyeri mungkin tidak spesifik begitu.

Pada kasus peradangan usus buntu yang spesifik, akan muncul nyeri tekan pada perut kanan bawah. Nyeri semakin memberat dari jam ke jam. Selain nyeri bila ditekan, nyeri juga muncul bila setelah ditekan lalu segera dilepas (nyeri lepas). Nyeri yang sama pada perut kanan bawah akan timbul bila ditekan pada perut kiri bawah. Selain itu otot-otot dinding perut teraba menegang.

Pasien umumnya berbaring dengan tungkai kanan lebih ditekuk, dilakukan tanpa sadar untuk lebih mengendurkan otot dinding perut agar tidak menekan usus buntunya yang meradang. Nyeri perut yang semula tak begitu jelas, kemudian berangsur-angsur berubah menjadi nyeri tajam dan berlangsung terus menerus.

Bila dilakukan pemeriksaan, dengan perasat tungkai kanan dan paha ditekuk kuat, atau tungkai kanan diangkat tinggi-tinggi, nyeri di perut akan dimunculkan. Kecurigaan adanya peradangan usus buntu semakin bertambah bila pemeriksaan dubur dan atau vagina menimbulkan rasa nyeri juga. Suhu dubur (rectal) yang lebih tinggi dari suhu ketiak (axilla), lebih menunjang lagi adanya radang usus buntu.

Pemeriksaan laboratorium darah menunjukkan hitung darah putih yang meninggi (leucocytosis), dengan pergeseran jenis sel darah putih berbalik ke arah kiri. Hitung sel darah putih akan bertambah tinggi lagi bila usus buntu sudah pecah (perforasi).
(referensi : keluargasehat.com)